Minggu, 10 Februari 2013

Analisis Puisi "CATETAN TH. 1946"



CATETAN TH. 1946


1      
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,

2      
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
I
3      
Dan suara yang kucintai kan berhenti membelai

4      
Ku pahat batu nisan sendiri dan kupagut

5      
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian sandiwara

6
                                                                              sekarang

7
Tidak tahu Romeo & Yuliet berpeluk di kubur atau di ranjang
II
8
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

9
Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat

10
Dan kita nanti tiada lagi, sawan diburu

11
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu
III
12
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat,

13
Karena itu jangan mengerdip, tetap dan penamu asah,

14
Tulis karena kertas gerdang, tenggorakan kering sedikit demi sedikit mau

15
                                                                                                            basah!







Sabtu, 09 Februari 2013

Guru yang Berkepribadian



KOMPETENSI KEPRIBADIAN YANG HARUS DIMILIKI SEORANG GURU

            Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang materi pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat berat, tidak mampu dilakukan kecuali kuat kepribadiaannya, cinta dengan tugas, ikhlas dalam mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang mengatakan bahwa masa depan anak- anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya generasi muda yang handal pada zamannya. Untuk itulah seorang guru harus benar- benar memiliki kepribadian, seperti yang tercantup pada Undang- undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru dan Dosen harus memiliki:
1.      Kepribadian yang mantap dan stabil
Menjadi seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru dan nantinya seorang guru harus menjadi sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ ucapan/ perintahnya) dan  “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Untuk itu, dalam keperibadian guru yang mantap dan stabil ini , guru harus:
a.    Bertindak sesuai dengan norma hukum
     Sudah diketahui bahwa kita berada di negara Indonesia yang merupakan Negara Hukum. Untuk itu, sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya kita menaati segala hukum yang berlaku. Untuk seorang guru ada beberapa norma hukum yang berlaku, diantaranya:
·      Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 (tentang sistem pendidikan nasional)
·      Undang- undang Nomor 14 Tahun 2005 (tentang guru dan dosen)
·      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (tentang standar nasional pendidikan).
b.    Bertindak sesuai dengan norma sosial
     Tidak bisa kita lari dari kenyataan bahwa kita hidup tidak mungkin sendiri. Kita butuh orang lain untuk itu kita disebut makhluk sosial. Dalam kehidupan sosial, pasti akan banyak kita jumpai perbedaan yang bisa saja dari perbedaan itu akan timbul masalah- masalah. Untuk itu perlu adanya peraturan yang dapat mengatur kita dalam berkehidupan bermasyarakat. Contoh: norma adat istiadat.
c.    Bangga sebagai guru
     Semua hal yang berasal dari hati akan berdampak baik bagi kita. Begitu juga jika seorang guru benar- benar senang dalam menjalankan profesinya apalagi bangga menjadi seorang guru, maka guru tersebut akan memiliki motivasi yang tinggi sehingga akan menjadikan guru tersebut lebih bersemangat dalam menjalankan profesinya.
d.   Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma
     Guru harus berpendirian teguh, guru tidak bisa bertindak setengah- setengah harus secara total.  Dan guru juga harus tetap menjunjung tinggi norma- norma yang ada karena guru sebagai teladan harus memberikan contoh yang baik.

Kritik Sastra



KRITIK SASTRA
KRITIK IMPRESIONISTIK PADA CERPEN DAN SAJAK
Untuk memenuhi UAS Kritik Sastra
Dosen mata kuliah : Prof. Dr. Soedjiono, M. Hum



 







Oleh :
Erlin Winarto






UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2013

Senin, 04 Februari 2013

Tentang Sintaksis

Pengertian Sintaksis
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “sun” yang berarti “dengan” dan kata “tattein” yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang sudah sangat tua, menyelidiki struktur kalimat dan kaidah penyusunan kalimat (Suhardi, 1998:1). Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara kata atau frase atau klausa atau kalimat yang satu dengan kata atau frase (clause atau kalimat yang lain atau tegasnya mempelajari seluk-beluk frase, klause, kalimat dan wacana (Ramlan. 1985:21). Sintaksis adalah subsistem bahasa yang mencakup tentang kata yang sering dianggap bagian dari gramatika yaitu morfologi dan cabang linguistic yang mempelajari tentang kata ( Hari Murt Kridalaksana, 1993 ).
*sintaksis adalah salah satu cabang tata bahasa yang membicarakan struktur2 kalimat, klausa dan frasa