Senin, 29 Juli 2013

‎Makna Kebersamaan‬

“Disini kita belajar bersama, sebagai proses membuka diri dan pandangan kita untuk dapat memahami betapa indahnya Kebersamaan, Persatuan dan Perdamaian serta menepis Perbedaan kecil diantara kita, karena Hakikatnya kita itu Sama."

Sabtu, 20 Juli 2013

Tips Menu Sahur dan Berbuka Puasa



Puasa Bulan Ramadhan merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim di dunia. Setiap muslim selalu mengharapkan dan selalu menyambut kedatangan bulan puasa dengan sangat gembira.  

Makan pada waktu sahur dan berbuka puasa adalah rutinitas biasa yang harus dijalankan ketika melaksanakan ibadah puasa. Menurut Prof Dr Hardinsyah, dari sisi kesehatan, makanan yang disajikan saat makan sahur  juga harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain jenis, jumlah, dan cara. “Ini penting untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa”. 



MENGASIHI?

Kita sering mengucapkannya "kasih" tapi kadang kita gak tau apa artinya. Apa dengan kita memberi itu sudah mengartikan kalau kita mengasihi?
Mengasihi itu dari hati bukan tindakan. Kalau kita memberi tapi hati kita tidak ikhlas memberi bukan mengasihi dong namanya. Beda lagi kalau kita ingin memberi kemudian melakukannya itulah kasih (niat - diwujudkan dalam bentuk tindakkan).
Kasih tak pernah mengaharapkan imbalan. Sekalipun kita sudah memberi namun kita tidak mendapatkan apa- apa, tak jadi masalah bagi mereka yang benar- benar ingin mengasihi. Sekalipun ia harus jatuh- bangun dalam mengasihi; merasakan sakit;  sebenarnya mereka  akan lebih banyak kehilangan: hilang tenaga, waktu, dan finansial mereka.

Jumat, 07 Juni 2013

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.
Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.
Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.